Statistician Wannabe…

Pertanyaan Bodohku Akhirnya Terjawab

Posted by: naragnu on: March 14, 2008

Salah satu cara ngeles alasan kenapa prestasi belajarku di STIS tidak terlalu bagus adalah karena emang aku ga terlalu suka ama yg namanya statistik. Heh?? Jangan kaget para pembaca yg budiman, aku emang ga terlalu suka dengan konsep statistik. Tidak seperti matematika diskrit yg mengajarkan klo 1+1=2, ilmu statistik bukanlah ilmu yg secara pasti dapat diketahui kebenarannya. Kita hanya bisa mengira2, dengan segala macam “tetek bengek” metode yg dipake, dengan tingkat kerumitan metode yg berbeda2, kesemuanya itu tidaklah mampu menghasilkan kepastian suatu perkiraan. Bagaimanapun juga, statistik hanyalah pendekatan, That’s All. Suka atau ga suka, setuju atau ga setuju! Sehingga ketika awal penjurusan dulu aku lebih suka memilih jurusan Komputasi Statistik daripada Statistik Murni, bukan karena aku pinter ilmu komputasi/komputer, tapi mungkin karena emang aku punya phobia terhadap statistik :)

Kaitannya dengan judul diatas, salah satu pertanyaan yg mengganjal di kepalaku sejak pertama kali aku masuk STIS adalah, gimana kita dapat memastikan kebenaran suatu pendekatan atau dengan kata lain bagaimana kita tahu bahwa perkiraan yg kita buat adalah benar atau minimal mendekati kebenaran. Padahal kan kita tidak tau nilai yg benar itu seperti apa? Mungkin ini adalah pertanyaan bodoh, tapi selama aku bertanya kepada beberapa orang, tidak ada yg bisa. Setidaknya apa yg mereka jawab tidak mampu membuat aku merasa puas.

Sampai pada suatu saat, aku sedang duduk-duduk dikos teman ditemani seorang dosen muda berkacamata yg sangat kuragukan kemampuannya (maaf, aku tidak bisa menyebutkan siapa dia :) ), kami sempat berbincang2 mengenai banyak hal. Akhirnya, aku menanyakan pertanyaan yg mengganjal dipikiranku selama ini. Lalu dia menjawab seperti jawaban orang2 yg sebelumnya, bahwa untuk melihat seberapa bagus kualitas suatu statistik kita dapat melihat besaran error, varian, standard dev bla bla bla dll etc $7**%^$$$. Tapi, bukan itu yg kumaksud, lalu kuterangkan lagi maksudku dengan sejelas2nya. Biasanya ketika orang2 yg kutanya paham dengan pertanyaanku. mereka akan menjawab “klo emang seperti itu, kayanya emang ga bisa deh, auk ah”. Tapi dosen yg satu ini justru bisa menjawab, dan sungguh, aku ga nyangka dia bisa njawab, dan hebatnya lagi jawabannya sangat masuk akal dan mampu memuaskanku. Dan akhirnya pertanyaan bodohku selama ini bisa terjawab dengan baik. Itulah momen yg bisa merubah hidupku, karena sejak saat itu aku mulai jatuh cinta dengan dunia statistik. Aku pun memtuskan untuk belajar lebih giat lagi tentang dunia statistik mulai saat itu.

 Pengen tau jawaban dosen muda itu?

9 Responses to "Pertanyaan Bodohku Akhirnya Terjawab"

sing penting lulus kan?

jawabane opo rid?

penasaran nggak y?
Jawabannya : nggak….!!!
Pertanyaannya aja pertanyaan bodoh, gimana dengan jawabannya? wikikiki…pasti lebih *****(disensor)
Aku lebih tertarik dengan istilah “tetek bengek”…jadi inget dosen yang pernah ngajar aku, atau mungkin juga pernah ngajar kamu(pura-pura nggak kenal km….hehe….inget nggak istilah padanannya:”susu asma”(perlu disensor nggak?)

statistik for life

hah….. skripsi maneh…. mumet ah!

Akhirnya… Pertanyaan itu… terjawab sudah.

statistik-statistik emang bikin pusing

FAriiiiiid, tak kusangka di otakmu masih bisa mempertanyakan hal2 seperti itu… LU2s wae syukur mbok… btw, emang jawabnya opo? jgn2 juga masih menyisakan pertanyaan bodoh lainnya..

@lutpi:
ho oh bener, sing penting lulus…

@ocie
jawabannya…… wanna know aja

@enyos lerian
walo pertanyaannya bodoh, tapi jawabannya sungguh2 brilian, aku ga nyangka lho… apa lagi yg menjawab adalah dosen muda berkacamata itu… he he he

@stis, zea
bener banget pren, statistics for human beings.

@udienz
makane ndang rampungke skripsimu!!

@topik
masak kamu ga tau2 pik apa yg ada diotakku??
lulus wae wis syukur?? emange awakmu pik, skripsine trlunta2 (hi hi … pdhl aku barang)

Leave a Reply